Memilih cold storage tidak cukup hanya dengan menentukan apakah membutuhkan ruangan yang “dingin” atau “beku”. Setiap produk memiliki karakteristik, umur simpan, sensitivitas terhadap perubahan temperatur, kebutuhan distribusi, serta standar penyimpanan yang berbeda. Karena itu, keputusan menggunakan chiller atau frozen storage sebaiknya dimulai dari kebutuhan produk dan alur cold chain, bukan dari asumsi bahwa ruang yang paling dingin selalu paling aman.
Apa itu chiller?
Chiller adalah ruang penyimpanan bersuhu rendah yang mempertahankan produk tetap dingin tanpa membekukannya. Pada banyak aplikasi, temperatur operasional dapat berada di sekitar 0°C sampai 10°C, tetapi angka yang benar harus mengikuti spesifikasi produk, kemasan, proses produksi, dan persyaratan pemilik barang. Produk dairy, minuman, beberapa buah dan sayuran, makanan siap saji, bahan baku, serta produk tertentu yang memerlukan suhu terkendali dapat menggunakan chiller.
Tujuan chiller bukan sekadar membuat ruangan terasa dingin. Yang lebih penting adalah menjaga temperatur produk dalam rentang yang telah ditentukan dan meminimalkan fluktuasi selama receiving, storage, picking, dan loading.
Apa itu frozen storage?
Frozen storage digunakan untuk mempertahankan produk pada kondisi beku. Banyak produk frozen menggunakan target sekitar -18°C atau lebih rendah, tetapi target aktual tetap mengikuti spesifikasi produk. Daging, poultry, seafood, frozen food, es krim, dan sejumlah bahan baku umumnya membutuhkan lingkungan beku yang stabil.
Produk yang sudah beku saat tiba mempunyai kebutuhan berbeda dengan produk yang masih perlu dibekukan. Karena itu, customer perlu menjelaskan kondisi temperatur produk saat inbound. Fasilitas frozen storage tidak otomatis berfungsi sebagai blast freezer.
Frozen storage bukan blast freezer
Frozen storage terutama mempertahankan produk yang sudah berada pada kondisi beku, sedangkan blast freezer dirancang untuk menurunkan temperatur produk secara cepat. Perbedaan fungsi ini penting dalam quotation. Bila produk datang pada temperatur yang jauh lebih tinggi dan harus dibekukan, kebutuhan energi, waktu proses, ruang, dan equipment akan berbeda dengan sekadar menyimpan pallet yang sudah frozen.
Perbedaan chiller dan frozen yang perlu dinilai
- Target temperatur. Gunakan standar produk, bukan perkiraan umum.
- Kondisi produk saat inbound. Apakah barang sudah pada target suhu, baru keluar dari produksi, atau masih memerlukan proses pendinginan?
- Masa penyimpanan. Beberapa produk hanya transit beberapa hari; produk lain disimpan berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
- Jenis kemasan. Karton, crate, plastic wrapping, ukuran pallet, dan pola stacking memengaruhi airflow serta kapasitas rack.
- Rotasi inventory. Produk dengan expiry date perlu pengendalian lot dan dapat membutuhkan FEFO.
- Frekuensi pintu terbuka. Aktivitas inbound-outbound tinggi dapat memengaruhi stabilitas ruang.
- Transport berikutnya. Cold storage yang baik tidak cukup bila kendaraan, staging, atau loading memutus cold chain.
Mengapa stabilitas suhu lebih penting daripada angka sesaat?
Customer sering hanya meminta “-18°C” atau “+3°C”. Dalam praktik operasional, yang perlu dinilai adalah kemampuan fasilitas menjaga rentang temperatur saat pintu dibuka, pallet masuk, forklift bergerak, dan produk keluar. Anteroom, loading flow, kapasitas refrigeration, disiplin pintu, dan monitoring temperatur ikut menentukan konsistensi.
Untuk produk sensitif, tanyakan bagaimana temperatur dipantau, bagaimana deviasi ditangani, dan data apa yang tersedia untuk kebutuhan traceability. Kebutuhan tersebut sebaiknya disepakati sebelum barang masuk.
Bagaimana menghitung kapasitas yang dibutuhkan?
Jangan hanya menyebut total berat. Untuk fasilitas dengan racking, informasi seperti jumlah pallet, ukuran pallet, tinggi total pallet, berat per pallet, jumlah SKU, serta volume peak jauh lebih berguna. Sebagai contoh, 100 ton barang dapat membutuhkan jumlah pallet yang sangat berbeda tergantung densitas, ukuran karton, dan aturan stacking.
Gunakan tiga skenario: volume rata-rata, volume peak, dan safety buffer. Dengan begitu, penyedia gudang dapat menilai apakah kapasitas tersedia bukan hanya pada hari pertama, tetapi juga ketika stok mencapai puncak.
Chiller atau frozen: mana yang lebih murah?
Tidak tepat membandingkan hanya berdasarkan storage rate. Total biaya dapat mencakup handling in/out, equipment, minimum billing, overtime, pallet movement, rework, transport, serta kebutuhan monitoring. Fasilitas yang secara nominal lebih murah belum tentu menghasilkan biaya logistik total yang lebih rendah apabila lokasinya jauh atau flow operasionalnya tidak sesuai.
Data yang perlu disiapkan sebelum meminta quotation
- Jenis produk dan karakteristik khususnya.
- Target temperatur dan toleransi yang diperbolehkan.
- Kondisi temperatur saat barang tiba.
- Jumlah pallet/CBM, dimensi, dan berat per pallet.
- Jumlah SKU, lot/batch, dan expiry jika relevan.
- Perkiraan lama penyimpanan.
- Frekuensi inbound dan outbound.
- Kebutuhan picking, repacking, labeling, atau handling tambahan.
- Lokasi supplier serta tujuan distribusi.
Kesimpulan
Pilih chiller atau frozen berdasarkan spesifikasi produk dan keseluruhan cold-chain flow, bukan karena satu pilihan terlihat lebih dingin atau lebih murah. Gudang MBS memiliki opsi cold storage di Bekasi dan Surabaya yang dapat dievaluasi berdasarkan temperatur, pallet, rotasi, serta kebutuhan distribusi. Ketersediaan slot dan konfigurasi aktual selalu perlu dikonfirmasi saat inquiry.
Butuh rekomendasi fasilitas?
Kirim jenis produk, volume, lokasi dan kebutuhan temperatur. Tim marketing Gudang MBS akan membantu menyaring opsi yang relevan.
Konsultasi WhatsApp