Kebutuhan gudang sebaiknya diterjemahkan ke satuan yang dapat dihitung secara operasional. Menyebut “100 ton barang” belum cukup karena dua produk dengan berat sama dapat membutuhkan jumlah pallet dan ruang yang sangat berbeda. Untuk warehouse dengan racking, pallet position sering menjadi unit yang lebih berguna.

Langkah 1: catat ukuran unit kemasan

Mulai dari dimensi karton atau unit, berat per karton, dan apakah karton boleh ditumpuk. Data ini menentukan pola palletization. Jika produk sudah datang dalam pallet dari supplier, gunakan data pallet aktual.

Langkah 2: tentukan pallet standard

Catat panjang, lebar, dan jenis pallet yang digunakan. Jangan mengasumsikan semua pallet berukuran sama. Ukuran pallet harus kompatibel dengan rack dan material handling. Sertakan juga berat pallet kosong bila load limit penting.

Langkah 3: hitung karton per pallet

Tentukan jumlah karton per layer dan jumlah layer yang aman. Misalnya 10 karton per layer × 5 layer = 50 karton per pallet. Jika total 4.300 karton, kebutuhan teoritis adalah 86 pallet. Bulatkan ke atas untuk sisa karton yang tidak membentuk pallet penuh.

Langkah 4: hitung per SKU bila tidak boleh dicampur

Kesalahan umum adalah membagi total karton seluruh SKU dengan kapasitas pallet. Jika SKU berbeda tidak boleh bercampur, hitung setiap SKU secara terpisah. Banyak pallet akan menjadi partial pallet sehingga kebutuhan posisi lebih tinggi daripada hitungan agregat.

Langkah 5: cek tinggi dan berat total

Hitung tinggi pallet termasuk pallet base dan kemasan. Rack memiliki clear height dan load limit. Pallet terlalu tinggi mungkin hanya dapat ditempatkan di level tertentu; pallet terlalu berat dapat memerlukan posisi khusus.

Langkah 6: bedakan average dan peak

Gunakan minimal tiga angka: average stock, peak stock, dan safety buffer. Jika average 300 pallet dan peak historis 480 pallet, quotation harus memeriksa kemampuan fasilitas saat 480 pallet. Jangan merencanakan hanya berdasarkan rata-rata.

Langkah 7: tambahkan staging dan operational space

Tidak semua area gudang dapat menjadi storage. Receiving, QC, picking, packing, outbound staging, aisle, charger area, office, fire access, dan ruang teknis tetap membutuhkan space. Karena itu, luas bangunan tidak dapat dibagi mentah dengan luas footprint pallet.

Langkah 8: masukkan rotasi

Jumlah pallet stock hanya menggambarkan occupancy. Untuk menghitung resources, tambahkan inbound dan outbound per hari/minggu. Gudang 200 pallet dengan 100 movement per hari dapat lebih intensif daripada gudang 500 pallet yang hampir tidak bergerak.

Langkah 9: pertimbangkan picking

Jika outbound selalu full pallet, operasi lebih sederhana. Jika customer membutuhkan case picking atau piece picking, diperlukan pick face, replenishment, tote/carton staging, dan tambahan manpower. Sampaikan ini sejak quotation.

Contoh perhitungan sederhana

Misalnya sebuah produk memiliki 6.000 karton. Satu pallet menampung 48 karton. Kebutuhan teoritis 125 pallet. Jika terdapat beberapa SKU dan partial pallet menambah 12 posisi, stock menjadi 137 pallet. Tambahkan peak buffer 20%, maka kebutuhan planning sekitar 165 pallet positions. Angka ini baru starting point; berat, tinggi, aisle, dan staging tetap harus diperiksa.

Data yang sebaiknya dikirim ke penyedia gudang

  • Jumlah pallet average dan peak.
  • Ukuran pallet dan tinggi total.
  • Berat rata-rata/maksimum per pallet.
  • Jumlah SKU.
  • Apakah mix SKU dalam pallet diperbolehkan.
  • Inbound/outbound frequency.
  • Full-pallet atau case picking.
  • FIFO/FEFO dan lot control.
  • Temperatur bila cold storage.

Kesimpulan

Perhitungan pallet yang baik membantu mencegah dua masalah: membayar space terlalu besar atau memilih fasilitas yang tidak mampu menampung peak. Gunakan data SKU, dimensi, berat, rotasi, dan staging—bukan hanya tonase atau luas ruangan.

Butuh rekomendasi fasilitas?

Kirim jenis produk, volume, lokasi dan kebutuhan temperatur. Tim marketing Gudang MBS akan membantu mengevaluasi opsi fasilitas yang relevan.

Konsultasi WhatsApp